saya ga tau dia nabi. tapi kalau di emang nabi, kok Tuhan goblok banget?
– adipraja, saat membalas ucapan pak usep.When you see yourself doing something badly and nobody’s bothering to tell you anymore, that’s a very bad place to be. Your critics are your ones telling you they still love you and care.
– Randy Pausch, The Last Lecture (via quote-book) Via Quote Book:apa ya?
kamu lihat aku tidak?
aku di sini. melayang terombang-ambing.
jangan lihat ke atas. aku bukan di sana. aku di sini, di bawah air keruh yang kau lihat tepinya.
tenang saja, aku tidak tenggelam. aku ini terlalu ringan untuk karam, terlalu berat untuk mengapung.
jangan! jangan coba-coba ke sini. di sana sajalah kamu. aku tidak kesepian, ada ikan di sini.
aku hanya malu. aku ini apa?
aku bukan batu, syukurlah.
tapi aku juga bukan bulu sayangnya.
eh, apa aku ikan ya?
Sometimes you have to be apart from people you love. But that doesn’t mean you love them any less. Sometimes, it even makes you love them more.
– The Last Song (via littlemiss) Via Half-heartedlylet me stop you.
let me be.
begitu katanya waktu itu. maka aku pun diam dan menontonnya melakukan kebodohan demi kebodohan. Tuhan tolong jaga ia, pintaku.
bukan aku tak peduli, hanya memberi ruang untuk kegagalan. tahu bahwa kadang hanya kegagalan yang dibutuhkan untuk sadar dan belajar.
let me be.
begitu katanya waktu itu. maka aku pun diam dan menontonnya jatuh dan bangun. Tuhan tolong bantu ia, mohonku.
bukan tak peduli, hanya memberi ruang untuk pengalaman. tahu bahwa pengalaman adalah guru yang terbaik.
let me be.
begitu katanya waktu itu. maka aku pun diam dan menontonnya menenggelamkan diri dalam kesendirian. Tuhan tolong bimbing ia, doaku.
bukan tak peduli, hanya memberi waktu untuk sendiri. tahu bahwa kadang kesendirian yan diperlukan untuk paham.
let me be.
tidak, kataku. kamu sudah terlalu sering gagal tanpa belajar. kamu sudah terlalu sering jatuh dan lupa bangun. kamu sudah terlalu sering dalam kesendirian yang menyesakkan. maafkan aku sahabat, ternyata butuh waktu lama buatku menyadari dalam setiap “let me be”, terbisik “stop me”.
We live in a world of constant progress and forward motion. Stand still for a second, and you’ll be left behind. But as hard as we try to move forward, as tempting as it is to never look back, the past always comes back to bite us in the ass. And as history shows us again and again, those who forget the past are doomed to repeat it.
– Grey’s Anatomy (via littlemiss) Via Half-heartedlytolong dengar dan berhenti.
saat kamu tahu apa yang kamu lakukan bodoh, kenapa kamu kadang memaksa untuk tetap melakukannya? sekali, masih bisa ditoleransi. hey, semua orang harus melakukan kesalahan lantas belajar untuk tidak mengulanginya lagi.
jadi, saat kamu tetap melakukan hal bodoh, sebuah kesalahan yang kamu ulang (karena kamu tidak akan menyebutnya bodoh jika kamu belum melakukannya lantas merasa bodoh) bukankah itu artinya kamu tidak belajar?
kenapa kamu lakukan lagi? padahal kamu tahu itu bodoh, akhirnya hanya sengsara, dan mengundang cemoohan buat diri kamu sendiri?
buat apa? live at the moment? itu bodoh, sayang. untuk apa hidup bodoh?
berapa kali kamu bilang ke diri kamu sendiri : “ini bodoh. hentikan. cepat. sebelum terlambat.”? harus sebanyak apa kalimat itu diulang sampai kamu mendengar dan benar-benar menghentikan tindakan bodoh itu? toh, jumlah yang selama ini diterapkan belum cukup, kamu toh tetap melanjutkan melakukan hal bodoh itu.
saat seluruh alam, seluruh sel di tubuh kamu, seluruh tanda berteriak : “ITU BODOOOH! HENTIKAN!” kenapa kamu tidak mendengar?
akhirnya sama. kamu kecewa. kamu salahkan dunia yang jahat nan kejam. kamu adalah korban yang tertindas, semua salah kecuali kamu. padahal kamu tahu kamu yang salah. kamu yang bodoh. kamu yang tidak mendengar.
jadi, tolong dengar. tolong.
sebelum hal seperti ini terjadi lagi. sebelum kamu akhirnya hilang percaya pada dunia, pada mimpi, pada Tuhan.
tolong dengar dan berhenti.

